Obat Penghambat Perkembangan Penyakit HIV Pada Anak

Obat Penghambat Perkembangan HIV Pada AnakMEDIKALOGI.COM – Saat ini, obat antiretroviral (ARV) telah dikenal luas sebagai satu-satunya obat yang dapat menghambat perkembangan penyakit HIV/AIDS. Obat ARV ini tidak untuk menyembuhkan HIV, akan tetapi dapat menurunkan kesakitan dan kematian secara dramatis, serta memberi harapan hidup pada orang dewasa maupun anak.


Pada beberapa tahun terakhir ini, terapi dengan kombinasi tiga obat antiretroviral (ARV) sangat berpengaruh pada hidup orang yang dengan HIV. Namun obat ini masih rumit, dan efek sampingnya dapat sulit ditahan. Lagi pula, kepatuhan pada jadwal pengobatan sangat penting, agar virus tidak menjadi kebal atau resistan terhadap obat. Sekarang terapi ARV (ART) ini dapat dipakai dengan tujuan yang sama untuk anak yang terinfeksi HIV.

Sistem kekebalan tubuh pada anak masih berkembang. Anak menanggapi infeksi HIV secara berbeda. Jumlah CD4 anak terinfeksi HIV lebih tinggi dibandingkan orang dewasa, dan cenderung menurun hingga usia 4-5 tahun. Persentase CD4 (CD4%) lebih stabil dan umumnya ukuran ini dipakai untuk mengukur kesehatan sistem kekebalan anak di bawah lima tahun (balita). Viral load bayi juga biasanya lebih tinggi, dan menurun hingga usia 4-5 tahun, kemudian menjadi stabil.

Anak balita mempunyai lebih banyak lemak dan air dalam tubuhnya. Hal ini berpengaruh pada tingkat obat yang masuk ke aliran darahnya. Metabolisme balita juga sangat cepat, kemudian jadi semakin pelan sebagaimana anak menjadi semakin tua.

Hati kita menguraikan obat dan mengeluarkannya dari tubuh kita. Hati hanya berfungsi secara penuh setelah beberapa tahun. Selama waktu perubahan ini, tingkat obat dalam aliran darah anak bisa berubah secara bermakna. Banyak obat mempunyai pedoman khusus untuk anak.

Penelitian terhadap Anak

Sebetulnya, hanya ada sedikit penelitian mengenai HIV pada anak. Jadi sebagian besar usulan dan pedoman tentang penatalaksanaan HIV pada anak berdasarkan penelitian pada orang dewasa.

ART untuk Anak

Sama seperti untuk orang dewasa, ART sudah sangat berpengaruh pada harapan dan mutu hidup anak. Berkat ART, anak yang lahir dengan HIV sekarang dapat berharap akan bertahan hidup sama seperti anak yang tidak terinfeksi HIV. Di negara maju, angka kematian anak dengan HIV sudah turun serupa dengan orang dewasa.

Anak yang terinfeksi HIV sebaiknya diobati oleh dokter spesialis anak yang berpengalaman menatalaksana HIV.

Anak juga menanggapi ARV secara berbeda. Anak mengalami peningkatan lebih besar pada jumlah CD4, dan sel CD4-nya lebih beraneka ragam. Tampaknya tanggapan kekebalan anak menjadi lebih pulih dibandingkan orang dewasa.

Karena ARV jarang diuji coba pada anak, takaran yang terbaik kadang belum jelas. Takaran obat untuk anak umumnya ditentukan berdasarkan berat badan. Namun, kadang kala takaran ditentukan berdasarkan luasnya permukaan tubuh; rumusan ini melibatkan tinggi dan berat badan. Kadang juga, takaran ditentukan berdasarkan perkembangan anak (Tanner stage). Seperti dibahas di atas, ada beberapa faktor yang berpengaruh pada tingkat obat dalam aliran darah anak. Takaran obat harus diubah-ubah terus-menerus sebagaimana anak berkembang.

Beberapa ARV disediakan dalam bentuk bubuk atau sirop. Semakin banyak ARV (termasuk kombinasi) mulai tersedia dengan pil versi pediatrik, dengan kandungan masing-masing obat cocok untuk dipakai oleh anak kecil. Beberapa pil dewasa dapat dibuat puyer dan dimasukkan pada makanan atau minuman. Beberapa klinik mendidik anak agar bisa menelan pil. Anak yang dapat menelan pil mempunyai lebih banyak pilihan.

Walau para dokter kadang mencoba memotong tablet dewasa sesuai dengan takaran anak, hal ini dapat menghasilkan takaran yang terlalu rendah. Unsur aktif obat mungkin tidak disebarkan secara rata dalam tablet, keadaan ini sering terjadi pada obat kombinasi tetap, mis. Duviral (kombinasi AZT dan 3TC dalam satu tablet).

Beberapa ARV belum disetujui untuk dipakai oleh bayi atau anak.

Efek Samping ART pada Anak

Anak pengguna ART cenderung mengalami efek samping serupa dengan orang dewasa.

Tulang anak berkembang cepat pada tahun-tahun awal hidup kita. ART tampaknya melemahkan tulang pada orang dewasa. Masalah ini lebih besar buat anak, karena tulangnya masih berkembang. Untuk informasi lebih lanjut mengenai masalah tulang terkait HIV.

Kapan Sebaiknya Mulai ART?

Penyakit terkait HIV muncul jauh lebih cepat pada anak yang tidak diobati dibandingkan dengan orang dewasa. Tanpa pengobatan, sampai 50% anak meninggal dunia atau mengembangkan AIDS dalam satu tahun pertama usianya.

Oleh karena itu, menurut WHO semua anak terinfeksi HIV di bawah usia 24 bulan harus segera mulai ART, tidak memandang jumlah CD4 atau CD4%-nya. Anak berusia 2-5 tahun dengan penyakit HIV stadium 3 (gejala sedang) atau 4 (gejala berat), atau dengan CD4% ≤25% harus mulai ART. Kriteria ini belum tercermin dalam pedoman ART di Indonesia.

Anak dan Kepatuhan

Kepatuhan adalah tantangan besar untuk anak. Baik anak dan orang tua mungkin membutuhkan lebih banyak dukungan. Banyak anak tidak mengerti mengapa mereka harus mengalami efek samping obat.

Sering kali orang tuanya juga terinfeksi HIV. Mereka sendiri mungkin menghadapi masalah dengan kepatuhan. Anaknya mungkin memakai obat berbeda, mungkin juga dengan jadwal yang berbeda. Banyak ARV rasanya kurang enak atau mempunyai susunan (tekstur) yang aneh. Selang makanan yang langsung ke perut mungkin diperlukan jika seorang balita enggan menelan obatnya.

Garis Dasar

ART sangat efektif untuk mencegah penyakit terkait HIV dan kematian pada anak. Namun pengobatan untuk anak yang terinfeksi HIV adalah rumit. Takaran yang cocok belum jelas. Anak mungkin mengalami kesulitan untuk menelan obat dan memakai setiap dosis sesuai dengan jadwal.

Seperti pada orang dewasa, kepatuhan pada jadwal pengobatan sangat penting agar virus tidak menjadi resistan terhadap obat. Namun ini mungkin masalah yang lebih sulit untuk anak, yang mungkin enggan memakai obat.

Anak yang HIV-positif sebaiknya diobati oleh dokter spesialis anak yang berpengalaman menangani HIV.

Demikianlah informasi mengenai obat yang menghambat perkembangan penyakit HIV pada anak. Harapan penulis, semoga artikel ini bermanfaat dan tidak ada lagi anak-anak khususnya di Indonesia yang terinfeksi penyakit ini. Semoga anak-anak di Indonesia semuanya sehat dan selalu tersenyum ceria menyongsong masa depan yang lebih indah. Lebih dan kurangnya, penulis mohon maaf.