Tips Staf Medis Menghadapi Psikologis Pasien Penderita Kanker Payudara

Staf Medis Harus Selalu Sabar Menghadapi Psikologis Setiap Pasien
Staf Medis Harus Selalu Sabar Menghadapi Psikologis Setiap Pasien

Kanker payudara merupakan penyakit kanker yang ganas dan berbahaya yang sering diderita wanita. Kanker ini menyerang bagian jaringan payudara dan kebanyakan menyerang kaum wanita. Tetapi perlu Anda ketahui bahwa pria juga mempunyai resiko terserang penyakit yang sangat mematikan ini, tetapi resiko seorang pria terserang penyakit kanker payudara lebih kecil di bandingkan dengan resiko seorang wanita.


Pengobatan kanker payudara melalui operasi dapat menghancurkan keindahan penampilan fisik dan efek samping yang ditimbulkan akibat dari operasi ini akan dapat menyebabkan disfungsi ganda hambatan fisik dan psikologis pasien.

Tahapan Tingkat psikologis yang terjadi pada penderita kanker payudara adalah :

1.   Ketakutan pada kanker payudara

Karena tingkat pemahaman terhadap tumor ganas yang berbeda pada setiap orang, pasien sering berulang-ulang menanyakan tentang informasi yang terkait dengan penyakit mereka kepada para pekerja kesehatan atau kepada sesama pasien yang menderita penyakit yang sama, dan semakin banyak informasi yang diterima semakin membingungkan.

2.   Mencurigai hasil diagnosis

Sebagian besar pasien yang telah didiagnosis kanker mencurigai adanya kesalahan diagnosis, timbul konflik psikologis, stres emosional, dan pasien mencari dengan segala cara untuk mendapatkan cara pemeriksaan dan metode diagnostik yang digunakan untuk menentukan penyakit tersebut.

3.   Pesimisme dan kekecewaan

Pasien sekali mengetahui bahwa ia positif terkena kanker, biasanya akan mempunyai sikap pesimis dan kecewa yang ekstrim, depresi, bersikap acuh tak acuh pada langkah-langkah pengobatan yang dilakukan, bahkan putus asa dan timbul keinginan untuk bunuh diri.

4.   Mulai bersikap rendah diri

Mayoritas wanita yang menderita dari pasien kanker payudara, takut suaminya tidak dapat menerima mereka karena adanya perubahan penampilan fisik yang diakibatkan oleh penyakit ini, terutama pada pasien yang memiliki kepribadian introvert karena memendam penderitaan dan kesakitan yang luar biasa sehingga mempunyai keadaan emosi yang labil.

5.   Menerima kenyataan dan punya keinginan yang kuat untuk hidup

Pasien setelah melalui proses psikologis di atas kemudian akan kembali tenang, siap menerima kenyataan tersebut, dan mempunyai sikap positif untuk pengobatan kanker payudara.

6.   Menolak obat-obatan dan terapi pengobatan

Pasien setelah melalui masa pengobatan pada jangka waktu tertentu, seringkali timbul efek samping yang parah akibat kemoterapi, yang mengakibatkan kembali timbulnya depresi, putus asa, dan hilangnya kepercayaan diri dalam perjuangan melawan penyakit yang akan berpengaruh buruk pada hasil pengobatan.

Sikap optimisme dan emosi yang stabil pada pasien adalah kunci agar pengobatan yang dilakukan dapat berhasil. Oleh karena itu, untuk diagnosis psikologis di atas, diperlukan langkah-langkah khusus untuk perawatannya :

Langkah-langkah khusus yang diperlukan adalah :

1.   Pemahaman yang benar tentang kanker payudara dan membangun kepercayaan diri

Pada pasien yang telah diketahui tentang kondisi penyakitnya, staf medis seharusnya mengambil inisiatif untuk berkomunikasi dengan pasien dan memberikan penjelasan tentang penyakit yang diderita, mendukung dan menghibur pasien, sehingga pasien memiliki pemahaman yang benar tentang kanker payudara.

2.   Setiap pertanyaan harus dijelaskan dengan hati-hati, ilmiah, dan sabar

Untuk setiap pertanyaan yang diajukan pasien seharusnya dijelaskan dengan hati-hati, ilmiah, dan sabar. Dengan kepala dingin dan tenang mengarahkan pasien untuk mengurangi kecemasan pasien, menghilangkan faktor-faktor psikologis yang tidak kondusif pada pengobatan penyakit payudara.

3.   Pasien dengan kondisi pesimis dan putus asa yang ekstrim

Pada pasien dengan kondisi pesimis dan putus asa yang ekstrim harus dilakukan analisa penyebabnya, ketika melakukan tindakan perawatan psikologis pada saat yang bersamaan juga diperkenalkan kepada pasien tentang kemajuan pengobatan terbaru kanker payudara dan contoh kasus keberhasilan pengobatan kanker payudara, selain itu juga diperkenalkan kepada pasien, pasien lain dengan penyakit yang sama dengan hasil pengobatan dan kondisi psikologis yang baik agar mereka dapat saling mengenal, mendorong mereka sebagai sesama pasien agar dapat berbagi mengenai pengalaman mereka berjuang melawan penyakit, dengan demikian dapat meningkatkan kepercayaan diri untuk menang melawan penyakit.

4.   Staf medis harus memiliki sifaf kasih sayang yang tinggi dan rasa tanggung jawab

Staf medis harus memiliki sifaf kasih sayang yang tinggi dan rasa tanggung jawab, sikap positif dan tulus, berbicara dengan welas asih, bersikap sabar dan peduli terhadap pasien. Pada saat kondisi emosi pasien yang buruk dan berbicara dengan kasar, hendaknya disikapi dengan menahan diri, sabar, dan penuh kasih sayang, berusaha mendekatkan diri dengan pasien, mendorong pasien agar dapat menceritakan segala uneg-uneg dan penderitaan yang dialami.

5.   Staf medis harus memahami rekaman medis pasien

Staf medis harus memahami rekaman medis pasien, metode pengobatan yang telah dilakukan dan perubahan psikologis pasien, menjelaskan pengetahuan penyakit dan obat yang terkait sehingga pasien mempunyai pemahaman yang benar tentang metode pengobatan yang akan dilakukan, dengan demikian dapat membantu pasien untuk beradaptasi sehingga dapat secara bekerja sama dengan pihak staf medis pada saat pengobatan.

6.   Kamar inap harus tenang, bersih dan nyaman

Kamar inap yang tenang, bersih dan nyaman, serta mendorong sesama pasien untuk memiliki hubungan interpersonal yang baik antar pasien, dengan demikian pasien dapat menerima pengobatan dengan suasana yang santai dan optimis untuk menghindari faktor-faktor lingkungan yang merugikan yang pasien.

7.   Adanya program perawatan psikologis

Adanya program perawatan psikologis yang ditujukan untuk pasien sesuai dengan efek kemoterapi yang ditimbulkan, sewaktu berkomunikasi dengan pasien memperhatikan bahasa yang digunakan, menjelaskan kepada pasien tentang obat dan dan pengetahuan yang terkait, memberikan pengarahan tentang makanan yang harus dikonsumsi, membimbing pasien untuk menerapkan gaya hidup sehat, sehingga pasien dapat mencapai kesembuhan yang maksimal.