Infeksi di Dalam Rongga Mulut

Infeksi di Dalam Rongga Mulut MEDIKALOGI.COM – Dalam tubuh manusia membawa banyak kuman bakteri, parasit, jamur dan virus. Sistem kekebalan yang sehat mampu mengendalikan semua kuman-kuman ini.


Sistim kekebalan jika dilemahkan oleh penyakit HIV atau oleh beberapa jenis obat, kuman ini mungkin tidak terkuasai lagi dan dapat menyebabkan masalah kesehatan.

Infeksi yang mengambil manfaat dari lemahnya pertahanan kekebalan tubuh disebut “oportunistik”. Kata “infeksi oportunistik” sering kali disingkat menjadi “IO”.

Infeksi oportunistik yang umum baik pada oral maupun perioral yang biasanya dihasilkan dari perkembangan endogenik jamur candida secara berlebihan.

Selain dari Candida albicans, di dalam rongga mulut juga ditemukan spesies candida lainnya seperti C.tropicalis, C.krusei, C.parapsilosis, C.guilermondi.

Spesies-spesies dari candida ini sering ditemukan dalam rongga mulut tetapi tidak menimbulkan penyakit. Sampai saat ini organisme yang paling sering menimbulkan penyakit candidiasis yaitu jenis Candida albicans.

Penyebab

Oral candidiasis disebabkan oleh jamur bersel tunggal dari keluarga Cryptokokeae. Terdapat tiga bentuk yaitu bentuk vegetatif yang merupakan blastospore (sel jamur) berdiameter 1,5-5µm dengan bentuk oval, bentuk hype, dan clamydospore yang terdiri atas sel-sel tubuh berdinding refraktil yang tebal dengan diameter keseluruhan 7-17µm.

Bentuk vegetatif merupakan bentuk yang sering dijumpai di mulut dan tidak bersifat patogen. Tetapi jika terdapat bentuk hype (patogen) maka jamur berhubungan erat dengan lesi yang terjadi.

Oral candidiasis tidak dapat langsung muncul. Hal ini disebabkan karena jamur Candida albicans merupakan jamur yang kurang patogen sehingga untuk terjadinya infeksi diperlukan faktor predisposing baik sistemik maupun lokal.

Faktor-faktor predisposing di atas adalah :

  • Pregnancy (melahirkan).
  • Endocrinopathy / gangguan endokrin : Diabetes melitus, Hipoparatiroidism, Hipoadrenalism, kehamilan.
  • Imunosupression : Akibat HIV, keganasan penyakit, defisiensi nutrisi (zat besi, folat, vitamin B12 atau zinc) 9,  anemia dan lain-lain.
  • Antibiotik.
  • Terapi Kortikosteroidemah setelah operasi.
  • Kesehatan mulut yang buruk.
  • Penggunaan obat kumur anti bakteri.
  • Peralatan prostodontik.
  • Xerostomia (Sjogren’s syndrome).
  • Iritan lokal yang kronis (gigi tiruan dan alat ortodonti).
  • Radiasi pada kepala dan leher.
  • Usia (bayi, kehamilan, usia lanjut).

Faktor lokal (kulit) yaitu trauma kronis pada epithelium dengan ditemukannya lesi mulut keratotik.

Faktor Resiko

Pada orang yang sehat, Kandida albikan umumnya tidak menyebabkan masalah apapun dalam rongga mulut, namun karena berbagai faktor, jamur tersebut dapat tumbuh secara berlebihan dan menginfeksi rongga mulut.

Faktor-faktor tersebut dibagi menjadi dua, yaitu :

1.   Patogenitas jamur

Beberapa faktor yang berpengaruh pada patogenitas dan proses infeksi kandida adalah adhesi, perubahan dari bentuk ragi ke bentuk hifa, dan produksi enzim ekstraseluler. Adhesi merupakan proses melekatnya sel Kandida ke dinding sel epitel host.

Perubahan bentuk dari ragi ke hifa diketahui berhubungan dengan patogenitas dan proses penyerangan Kandida terhadap sel host. Produksi enzim hidrolitik ekstraseluler seperti aspartyc proteinase juga sering dihubungkan dengan patogenitas Kandida albican.

2.   Faktor Host

Faktor host dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor lokal dan faktor sistemik. Termasuk faktor lokal adalah adanya gangguan fungsi kelenjar ludah yang dapat menurunkan jumlah saliva.

Saliva penting dalam mencegah timbulnya kandidiasis oral karena efek pembilasan dan antimikrobial protein yang terkandung dalam saliva dapat mencegah pertumbuhan berlebih dari Kandida, itu sebabnya kandidiasis oral dapat terjadi pada kondisi Sjogren syndrome, radioterapi kepala dan leher, dan obat-obatan yang dapat mengurangi sekresi saliva.

Pemakaian gigi tiruan lepasan juga dapat menjadi faktor resiko timbulnya kandidiasis oral. Sebanyak 65% orang tua yang menggunakan gigi tiruan penuh rahang atas menderita infeksi Kandida, hal ini dikarenakan pH yang rendah, lingkungan anaerob dan oksigen yang sedikit mengakibatkan Kandida tumbuh pesat.

Selain dikarenakan faktor lokal, kandidiasis juga dapat dihubungkan dengan keadaan sistemik, yaitu usia, penyakit sistemik seperti diabetes, kondisi imunodefisiensi seperti HIV, keganasan seperti leukemia, defisiensi nutrisi, dan pemakaian obat-obatan seperti antibiotik spektrum luas dalam jangka waktu lama, kortikosteroid, dan kemoterapi.

Terapi

Kandidiasis pada rongga mulut umumnya ditanggulangi dengan menggunakan obat antijamur,dengan memperhatikan faktor predisposisinya atau penyakit yang menyertainya,hal tersebut berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan atau penyembuhan.

Obat-obat antijamur diklasifikasikan menjadi beberapa golongan yaitu:

1.   Antibiotik

  • a. Polyenes : Amfotericin B, Nystatin, Hamycin, Nalamycin
  • b. Heterocyclicbenzofuran : Griseofulvin

2.   Antimetabolite : Flucytosine (5 –Fe)

3.   Azoles

  • a. Imidazole (topical) : Clotrimazol, Econazol, miconazol (sistemik) : ketokonazole
  • b. Triazoles (sistemik) : Flukonazole, Itrakonazole

4.   Allylamine Terbinafine

5.   Antijamur lainnya : Tolnaftate, benzoic acid, sodiumtiosulfat.

Dari beberapa golongan antijamur tersebut diatas, yang efektif untuk kasus pada rongga mulut, sering digunakan antara lain amfotericine B, nystatin, miconazole, clotrimazole, ketokonazole, itrakonazole dan flukonazole.

Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan candidiasis oral antara lain :

  • Oral hygiene yang baik.
  • Utamakan ASI daripada susu formula karena ASI mengandung banyak immunoglobulin yang berguna bagi kekebalan tubuh bayi. Selain itu, payudara ibu juga jauh lebih terjamin kebersihannya daripada botol dot bayi.
  • Bila menggunakan susu formula sebagai tambahan ASI, pastikan kebersihan botol dan dotnya, jangan lupa untuk mencucinya dengan air panas.
  • Beri bayi minum 2-5 sendok air hangat untuk membilas mulut bayi setelah minum susu.
  • Pastikan bayi beristirahat yang cukup.
  • Berikan bayi makanan yang mengandung nutrisi yang lengkap.