Penyebab Gangguan Kecemasan Pada Seseorang

Penyebab Gangguan Kecemasan MEDIKALOGI.COM – Semua orang pasti pernah mengalami berbagai perasaan seperti bahagia, marah, sedih, cinta, cemas, dan lain-lain.  Namun dalam artikel berikut ini, penulis hanya membahas tentang rasa cemas saja.


Kecemasan pada dasarnya bukan merupakan gangguan dan hal ini normal terjadi pada setiap individu karena dalam banyak hal justru mampu meningkatkan kewaspadaan dan membuat tubuh bersiap melakukan suatu tindakan.

Kecemasan dikatakan menyimpang apabila individu tidak dapat meredam (merepresikan) rasa cemas tersebut dalam situasi di mana kebanyakan orang mampu menanganinya tanpa adanya kesulitan yang berarti.

Kecemasan dapat muncul pada situasi tertentu seperti berbicara di depan umum, tekanan pekerjaan yang tinggi, menghadapi ujian. Situasi-situasi tersebut dapat memicu munculnya kecemasan bahkan rasa takut. Namun, gangguan kecemasan muncul bila rasa cemas tersebut terus berlangsung lama, terjadi perubahan perilaku, atau terjadinya perubahan metabolisme tubuh.

Kecemasan yang intens dan muncul tanpa alasan yang jelas berpotensi mengurangi kualitas hidup dan membuat seseorang tidak bisa menjalani hidup secara normal. Gangguan kecemasan (anxiety disorder) didefinisikan sebagai sekelompok penyakit mental yang membuat orang menderita perasaan gugup dan khawatir yang berlebihan.

Kecemasan merupakan salah satu gangguan emosional yang paling umum, yang ditandai dengan beberapa gejala emosional dan fisik seperti rasa takut, panik, mimpi buruk, pikiran obsesif tak terkendali, terganggu terus menerus dengan pengalaman traumatis, gangguan tidur, ketegangan otot, detak jantung meningkat, keringat dingin, dan gangguan pencernaan.

Penyebab Kecemasan

Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi terhadap timbulnya gangguan kecemasan seperti faktor biologis, pengalaman masa kanak-kanak, stres berlebih, gaya hidup, dan faktor genetik.

Berikut beberapa penjelasannya:

1.   Masalah dalam hidup

Gangguan kecemasan pada anak-anak berpotensi muncul akibat orang tua yang perfeksionis atau terlalu kritis. Jika anak-anak hanya mendapatkan sedikit penghargaan dari orang tua, mereka akan bereaksi dengan perilaku cemas.

Insomnia dan stres merupakan sebab lain timbulnya gangguan kecemasan. Menyaksikan kecelakaan besar atau peristiwa kekerasan juga bisa menjadi penyebab gangguan kecemasan.

2.   Masalah fisiologis

Gangguan kecemasan bisa muncul akibat faktor keturunan. Orang tua yang memiliki gangguan kecemasan berpotensi menurunkan anak dengan masalah serupa. Kecemasan bisa pula disebabkan adanya ketidakseimbangan kimiawi dalam otak. Berbagai masalah kesehatan seperti hipoglikemia dapat pula memicu kecemasan. Orang yang memiliki gangguan kecemasan akan menunjukkan reaksi yang kuat pada aspartam, amfetamin, kafein, dan stimulan lainnya.

3.   Faktor lingkungan

Beberapa faktor lingkungan dapat berkontribusi pada timbulnya gangguan kecemasan. Sebagian contoh diantaranya termasuk peristiwa trauma dan stres, perceraian, kematian orang yang dicintai, dan perubahan suasana di sekolah atau pekerjaan.

4.   Kepribadian

Menurut penelitian, kepribadian memainkan peran utama pada timbulnya gangguan kecemasan. Orang-orang yang rendah diri lebih rentan terhadap gangguan kecemasan. Terus-menerus berpikir negatif juga dapat menimbulkan gangguan kecemasan.

Gangguan kecemasan pada gilirannya menyebabkan rasa rendah diri, takut ditolak, perasaan kesepian serta ketidakberdayaan. Segala gangguan kepribadian ini, ditambah dengan berbagai masalah hidup seperti masalah keuangan, masalah hubungan, penyakit fisik, kehilangan pekerjaan dan lain-lain, semakin memperbesar kemungkinan timbulnya gangguan kecemasan.

Diagnosa dan Pengobatan

Meskipun tidak ada tes laboratorium khusus untuk mendiagnosis gangguan kecemasan, berbagai tes non laboratorium bisa dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya masalah.

Gangguan kecemasan (anxiety disorder) bisa diringankan dengan menggunakan berbagai obat-obatan seperti obat penenang dan terapi perilaku kognitif. Pasien dapat mengontrol atau mengurangi gejala dengan mengurangi konsumsi stimulan, olahraga teratur, serta diet sehat dan seimbang.[