Penyebab Gangguan Perkembangan Otak Pada Anak

Penyebab Gangguan Perkembangan Otak Pada Anak MEDIKALOGI.COM – ADHD singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. ADHD itu merupakan suatu gangguan pada perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif, impulsif, serta susah memusatkan perhatian. Kondisi ini dulunya dikenal dengan ADD atau Attention Deficit Disorder.


ADHD adalah kondisi yang bisa terdapat pada anak-anak, remaja bahkan pada orang dewasa. Namun gejalanya biasanya mulai berkembang pada masa kanak-kanak dan berlanjut hingga dewasa. Diperkirakan terdapat 3-5 persen anak-anak atau anak usia sekolah yang mengalami kondisi ini.

Tanpa penanganan yang tepat, ADHD dapat menimbulkan konsekuensi yang serius seperti mal-prestasi (under-achievement), kegagalan di sekolah atau pekerjaan, susah menjalin hubungan atau interaksi sosial, rasa tidak percaya diri yang parah, dan juga depresi kronis.

ADHD adalah gangguan perilaku umum yang mempengaruhi sekitar 8% hingga 10% anak usia sekolah. Anak laki-laki berpeluang mengalami ADHD sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan anak perempuan.

Anak-anak dengan ADHD bertindak tanpa berpikir, hiperaktif, dan mengalami kesulitan fokus (konsentrasi). ADHD membuat seorang anak tidak bisa duduk diam, memperhatikan pelajaran, atau memahami detail.

Penyebab ADHD

Terdapat beberapa penyebab Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak-anak, yang sebagian besar berasal dari aspek biologis. Meskipun dalam beberapa kasus orang tua turut berperan, namun diyakini bahwa perubahan struktur otak menjadi salah satu alasan yang dominan.

Berikut ini adalah beberapa penyebab ADHD :

1.   Kelainan anatomi otak

Anak-anak yang didiagnosis ADHD memiliki perbedaan dalam fungsi otak dibandingkan dengan rekan-rekan mereka. Otak memiliki bahan kimia yang disebut neurotransmiter yang berperan dalam proses interaksi sel-sel yang ada di otak.

Pada ADHD, neurotransmiter yang disebut dopamin cenderung tidak berfungsi sehingga mengakibatkan konsekuensi yang tidak diinginkan seperti impulsif, kurang konsentrasi, dan hiperaktif.

Seorang anak dengan ADHD juga cenderung memiliki volume otak lebih kecil dibanding anak usia sebaya.

2.   Faktor Genetik

ADHD diyakini akan diwariskan dari orang tua yang mengalami kelainan serupa. Satu dari empat anak yang didiagnosis ADHD memiliki kerabat dengan gangguan serupa. ADHD juga lebih sering ditemukan pada anak kembar identik.

3.   Faktor Ibu

Ibu hamil yang memiliki kebiasaan merokok mempertinggi resiko memiliki anak dengan ADHD. Demikian juga, mengkonsumsi alkohol atau obat lain selama periode kehamilan dapat menghambat aktivitas neuron yang memproduksi dopamin.

Wanita hamil yang terpapar racun kimia seperti polychlorinated biphenyls juga berpotensi memiliki anak ADHD. Bahan kimia ini banyak digunakan dalam industri pestisida.

Konsumsi obat-obatan terlarang seperti kokain terbukti pula menghambat pertumbuhan normal reseptor otak. Orang tua yang selalu mengkritik anak dan sering menghukum untuk kesalahan-kesalahan kecil juga bisa memicu munculnya perilaku ADHD.

4.   Faktor Lingkungan

Paparan racun pada anak dari lingkungan seperti timbal dan polychlorinated biphenyls dikhawatirkan akan memicu ADHD. Faktor lingkungan lain yang mungkin berkontribusi diantaranya adalah polusi, bahan makanan yang memiliki warna buatan, dan paparan sinar neon.

Selain itu, ada beberapa faktor lain yang dapat berkontribusi dalam terjadinya ADHD atau dapat memicu terjadinya gejala, seperti:

  • Paparan zat-zat beracun. Misalnya timbul saat awal masa kanak-kanak, hal ini dapat mempengaruhi perkembangan otak pada anak.
  • Infeksi, gizi buruk dan penyalahgunaan zat-zat terlarang (termaksud rokok dan alkohol) saat masa kehamilan. Hal ini juga dapat mempengaruhi perkembangan otak bayi.
  • Cedera atau gangguan pada otak.

Mengkonsumsi terlalu banyak gula tidak menyebabkan anak mengalami ADHD, meskipun asupan diet yang seimbang penting untuk perkembangan normal anak. ADHD juga tidak di sebabkan terlalu banyak menonton televisi, kehidupan rumah tangga yang kurang baik, sekolah yang kurang baik atau alergi terhadap makanan.