Eutanasia Untuk Mengakhiri Penderitaan Pasien

Eutanasia Untuk Mengakhiri Penderitaan PasienMEDIKALOGI.COM – Dalam beberapa kasus, kita biasa mendengar penyakit yang sudah sangat parah dan kemungkinan kecil harapan untuk kesembuhan pasien sangat kecil. Dalam keadaan seperti ini, pasien ataupun keluarga pasien meminta kepada tim medis untuk mengakhiri penderitaan pasien dengan euthanasia atau juga dikenal dengan suntik mati.


Eutanasia merupakan istilah awam di kalangan profesi yang bergerak di bidang medis. Berasal dari bahasa Yunani, eu artinya baik, thanatos artinya kematian.

Eutanasia dapat diartikan sebagai tindakan pencabutan nyawa atau mengakhiri hidup yang dilakukan dengan sengaja untuk mengakhiri penderitaan dan rasa sakit.

Secara etimologis, euthanasia berarti kematian dengan baik tanpa penderitaan, maka dari itu dalam mengadakan euthanasia arti sebenarnya bukan untuk menyebabkan kematian, namun untuk mengurangi atau meringankan penderitaan orang yang sedang menghadapi kematiannya.

Dalam arti yang demikian itu euthanasia tidaklah bertentangan dengan panggilan manusia untuk mempertahankan hidupnya, sehingga tidak menjadi persoalan dari segi kesusilaan. Artinya dari segi kesusilaan dapat dipertanggungjawabkan bila orang yang bersangkutan menghendakinya.

Seseorang yang mengalami euthanasia biasanya memiliki kondisi penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Tapi ada kasus lain yang mana beberapa orang ingin hidupnya berakhir.

Euthanasia ini hanya terjadi di beberapa negara saja seperti Belanda, Swiss atau Amerika. Tapi lebih banyak negara yang melarang pelaksanaan euthanasia.

Euthanasia terbagi dalam beberapa jenis, antara lain :

1.   Eutanasia aktif dan pasif

Dalam euthanasia aktif, dokter atau tenaga langsung dan sengaja menyebabkan kematian pasien, misalnya dengan memberikan pasien obat secara overdosis, memberikan tablet sianida atau menyuntikkan zat-zat yang mematikan ke dalam tubuh pasien.

Euthanasia pasif terjadi ketika pasien meninggal karena para profesional medis tidak melakukan sesuatu yang diperlukan untuk menjaga pasien tetap hidup atau menghentikan melakukan sesuatu yang menjaga agar pasien tetap hidup.
Contoh euthanasia pasif antara lain mematikan mesin penunjang hidup, melepas sebuah tabung makan, tidak melakukan operasi memperpanjang hidup atau tidak memberikan obat memperpanjang hidup.

2.   Euthanasia sukarela dan non-sukarela

Eutanasia sukarela terjadi atas permintaan dari pasien atau orang yang akan meninggal, misalnya dengan menolak perawatan medis, meminta perawatannya dihentikan atau mesin pendukung kehidupannya dimatikan atau menolak untuk makan.

Sedangkan euthanasia non-sukarela terjadi ketika pasien sadar atau tidak, sehingga ada orang lain yang mengambil keputusan atas namanya. Euthanasia non-sukarela bisa terjadi pada kasus-kasus seperti pasien sedang koma, pasien terlalu muda (misalnya bayi), orang pikun, mengalami keterbelakangan mental yang sangat parah atau gangguan otak parah.

3.   Euthanasia langsung

Euthanasia langsung berarti memberikan perlakuan (biasanya untuk mengurangi rasa sakit) yang memiliki efek samping mempercepat kematian pasien.

4.   Bantuan bunuh diri

Hal ini biasanya mengacu pada kasus-kasus yang mana orang yang akan mati membutuhkan bantuan untuk membunuh dirinya sendiri dan meminta tenaga medis untuk melakukannya.