Perilaku Sikap Anak Autis

Loading...

Autisme adalah cacat perkembangan otak (Bahasa Inggris: pervasive developmental disorder) yang melibatkan fungsi otak. Autisme dianggap sebagai sejenis kecacatan neurologi dan bukan cacat psikiatris (Bahasa Inggris: psychiatric disorder), walaupun penyebab penyakit ini termasuk masalah dengan hubungan sosial, dan komunikasi emosi, dan juga pola hidup biasa terkait dengan minat, aktivitas dan perilaku. Autisme juga melibatkan masalah dengan integrasi indera. Biasanya, autisme terlihat pada usia awal tiga tahun. Diperkirakan bahwa autis melibatkan dalam 2 sampai 6 kasus setiap 1.000 orang, dan autisme 4 kali lebih sering dalam anak laki-laki di bandingkan perempuan.

Autisme merupakan gangguan yang dialami sekitar sepuluh di antara sepuluh ribu anak. Banyak anak-anak dengan autisme mengalami kesulitan-kesulitan lain; beberapa di antaranya terbelakang sekali. Tetapi, sebagian anak dengan autisme memiliki kecerdasan normal. Ada sesuatu berkaitan dengan cara mereka memahami orang lain yang membuat mereka sangat berbeda dari kita yang normal.

Kenalilah Perilaku Sikap Anak Autis

Tanyakanlah kepada salah seorang anak cerdas usia 12 tahun yang autis, apakah artinya “bangga” dan apakah ia pernah merasa bangga. Terjadi kebisuan yang panjang. Akhirnya, dengan kondisi kening berkerut, ia berkomat-kamit pada dirinya sendiri, “Aku tahu itu.” Selanjutnya, dengan ragu-ragu ia berkata, “Bangga itu seperti ketika seseorang mencetak gol dalam sebuah pertandingan sepak bola? Seperti itukah bangga?” la mendapat jawaban yang benar, tetapi ia agaknya melakukan hal itu dengan cara yang amat berbeda dibandingkan dengan kebanyakan anak usia 12 tahun, yang secara tanpa sadar mengajukan beberapa contoh yang mengungkapkan keangkuhan.

Perilaku anak autis.

Temple Grandin, seorang perempuan autis merangkap guru besar yang sukses dan masyhur di bidang peternakan, berkata bahwa dia merasa seperti seorang antropolog di Mars. Pengetahuannya tentang orang lain didapatnya secara susah-payah dan menyakitkan dari pengamatan yang cermat terhadap keteraturan tingkah laku mereka. Kebanyakan dari kita terlahir dengan kemampuan menghubungkan pikiran kita dengan pikiran orang lain. Orang autis kelihatannya harus memecahkan persoalan Pikiran Orang Lain dari awal.

Kehidupan orang autis membuat kita sadar akan pentingnya bisa memahami pikiran-pikiran orang lain. Semenjak lahir, kebanyakan anak lebih menyukai orang dari pada benda. Anak autis sering terlihat memiliki preferensi yang sebaliknya. Mereka terserap oleh pola-pola balok, atau bahkan jadwal kereta, seraya menghindari orang lain. Dari satu sisi, hal ini seperti masuk akal. Coba bayangkan, betapa menakutkan dan mengganggunya dunia ini seandainya Anda benar-benar melihat orang lain sebagai gumpalan kulit yang acing dan bergerak secara acak, dengan cara yang tak terprediksikan, jika dibandingkan dengan melihat mereka sebagai orang dengan pikiran-pikiran.

Perilaku Sikap Anak Autis

Perbedaan  ini juga tercermin secara sistematik dalam cara anak  autis berperilaku dalam banyak eksperimen yang baru saja kami kemukakan. kebanyakan orang autis adalah juga orang yang terlambat secara mental, teknik dasar kajian-kajian ini ialah dengan membandingkan anak autis dengan anak anak pada usia mental yang sama, tetapi dapat berkembang secara normal maupun dengan anak-anak yang mengalami keterlambatan mental karena alasan lain, contohnya, anak-anak penderita sindrom Down. Anak autis menemui kesukaran dalam menirukan ekspresi wajah. Mereka sukar menunjukkan sesuatu ataupun mengikuti petunjuk yang diberikan orang lain. Mereka tidak dapat memahami keyakinan yang salah, seperti asumsi yang tidak tepat mengenai kotak permen yang menyesatkan. Mereka akan menyadarinya lama setelah anak-anak yang berkembang normal memahaminya terlebih dahulu, atau anak-anak dengan sindrom Down sekalipun. Tidak ada pengungkapan pemahaman akan pikiran.

Anak-anak autis tidak nampak mempunyai dugaan fundamental bahwa mereka menyerupai orang lain dan orang lain sama seperti mereka. Prinsip pertama yang tak dapat dibantah ini, aksioma dalam psikologi sehari-hari kami ini, secara paradoksal merupakan bagian dari hal yang memungkinkan mayoritas anak-anak untuk terus menemukan seluruh perbedaan dalam diri mereka dan orang lain.

Pada waktu autisme pertama kali dibahas, yaitu pada masa psikoanalitis pada 1950-an, ada psikiater menyimpulkan bahwa gangguan itu disebabkan oleh “ibu-ibu kulkas”, ibu-ibu yang dingin dan tidak responsif kepada anak-anak mereka. Ibu-ibu yang meraih gelar sarjana tergolong paling berpeluang menyebabkan anak-anak mereka autis. Tidak dapat dibayangkan bagaimana perasaan ibu-ibu yang telah berurusan dengan tragedi semacam ini pada waktu diberi tahu bahwa ini bukan hanya takdir mereka, melainkan kesalahan mereka. (Dari pandangan  kami yang lebih jernih saat ini, sebagai psikolog kognitif feminis di pergantian milenium, mengkritik sikap kaum Freudian terhadap kaum perempuan pada 1950-an ini terlihat tidak ada gunanya. Walau demikian, pandangan jahat itu masih cukup berbahaya, sehingga tampaknya cukup layak bagi kami untuk sedikit menyinggungnya).

Perilaku anak autis.

Saat ini, teramat jelas bahwa autisme tidak berkaitan dengan bagaimana orangtua memperlakukan bayi mereka. Autisme di mulai sejak dini, terdapat komponen genetis yang kuat dan pada beberapa kasus ini mungkin juga disebabkan oleh kerusakan pada otak ketika sebelum kelahiran. Kamu mungkin memiliki beberapa dugaan mengenai bagian mana otak yang terlibat. Dalam kasus ini, pihak yang tidak mempunyai perasaan adalah Alam.

Loading...